Sejak membeli sepeda sekitar sebulan yang lalu, keinginan untuk B2W semakin hari semakin menggebu. Tapi berhubung sudah bertahun-tahun tidak ngegoes sepeda, hati ini jadinya agak ragu juga. Apakah betis, dengkul dan paha ini cukup membaja untuk menggoes sepeda dari Citeureup ke Jakarta? Pertanyaan itu menggema di dalam otak saya. Berhubung tidak berani langsung mencoba, setiap akhir pekan saya gunakan untuk berlatih. Minggu pertama saya coba di sekitar rumah dan minggu ketiga saya coba dengan jarak yang agak jauh yaitu ke Depok. Meski awalnya pant** terasa pegal dan paha terasa hangat, saya merasa kaki ini sudah cukup oke untuk diajak ngegoes sampai Jakarta.
Rabu minggu lalu sudah berencana memulai aksi B2W. Tapi apa daya, kondisi justru drop diserbu batuk dan pilek. Gagalah rencana sebulan setelah membeli sepeda akan ber-B2W. Setelah istirahat di akhir pekan kemarin, rasanya badan sudah lumayan fit. Semalam, rencana ber-B2W pun saya sampaikan kepada nyonya besar. Seperti sebelumnya, dia agak gak rela kalau saya bersepeda sampai Jakarta yang berjarak sekitar 40 kilometer dari rumah. ”Sepedaannya weekend aja, ke Depok atau Cimanggis atau ke mana gitu. Tapi jangan Jakarta. Kan jauh dan banyak motor,” kata istriku dengan khawatir. ”Udah doain aja aman-aman saja dan aku kuat ngegoes sampai Jakarta,” jawabku. Berhubung tekadku sudah terlihat membulat, agaknya dia pasrah aja dan membolehkan aku B2W untuk kali pertama.
Karena sudah niat B2W, alarm biologisku bekerja dengan baik. Jam 04.30 mata tiba-tiba terbuka, tanpa bantuan alarm HP maupun dibangunkan istriku. Dia yang biasanya bangun pagi, malah masih terlihat lelap bersama si kecil Rafa. Ya udah beres-beres sendiri sambil cek ini-itu. Tas beserta baju ganti sudah siap. Dua botol minum sudah siap di bottle cage dan satunya di tempat minum tas. Helm, kacamata, HP dan tentu saja dompet sudah dipastikan tidak tertinggal. Setelah semua lengkap, saya solat subuh dan diteruskan mandi. Jam 05.15 sudah siap. Biar gak repot dijalan, perlengkapan dicek kembali.
Pas udah siap berangkat, istri ngajak ngobrol mengenai rencana pindahan rumah akhir pekan ini. Jadwal berangkat yang sudah diset jam 05.15 pun jadi mundur. Jam menunjukkan pukul 05.40 ketika saya pamitan istri dan mertua. Mertua yang belum tahu rencana ini agak gak percaya. ”Hah, sepedaan sampai Jakarta? Jauh loh.” tanyanya dengan heran. ”Iya, gak papa bu. Temannya banyak kok,” jawabnya sambil nyegir. ”Ya udah hati-hati,” kata mertuaku.
Jalanan masih agak gelap ketika tadi meninggalkan rumah. Orang-orang yang ditemui di jalan rata-rata adalah pedagang yang pulang dari pasar atau orang-orang yang sedang jogging pagi. Sepeda saya gowes dengan santai. Kalau langsung tancap gas takut stamina melorot dan pingsan duluan. Dari Citeureup sampai Cibinong jalanan lancar. Tapi pas di pasar justru macet. Aksi nakal pun dimulai. Sepeda diangkat melewati trotoar dan memakai lajur sebelah kanan yang berlawanan arah. Maaf ya pak polisi
Dari Cibinong melaku sendiri melewati jalan raya Bogor. Wah, kok gak ada barengan ya... Daripada bengong, mending siul-siul dan nyanyi sendiri. Jalan Raya Bogor masih cukup sepi dan lancar. Di daerah PAL ketemu satu orang yang berB2W lengkap helm dan masker. Berhubung saya lagi high speed dan si om lagi santai banget, saya Cuma sempat ngebel dan berkata, “Selamat pagi Om!” sambil terus mengayuh sepeda. Lepas PAL, jalanan sudah mulai padat. Angkot-angkot jagoan yang zig-zag plus berenti mendadak cukup menguji kesabaran. Tak lama kemudian, Mal Cijantung terlihat. Melirik jam, jarum menunjuk pukul 06.40. Pas sejam sampai Cijantung.
Setelah lampu merah Cijantung, lewat bawah fly over biar tidak menguras tenaga. Eh, jam segitu sudah macet. Aksi nakal kedua dimulai. Sepeda diangkat naik trotoar dan menggoes dengan lancar lewat trotoar. Sampai di perempat Pasar Rebo, teryata lampu lagi merah. Sepeda pun dituntun melewat trotoar dan menyebrang zebra cross ala pejalan kaki. Selamat tinggal mobil dan motor! Aksi ngegoes pun dimulai lagi. Jalanan menuju Kramat Jati terlihat ramai lancar.
Sampai di depan Pasar Induk, di depan terlihat sepeda melaju di sela mobil dan motor. Semangat pun kembali tumbuh. Dengan sekuat tenaga, sepeda saya genjot lebih kencang untuk mengejar sepeda di depan. Menjelang pasar, akhirnya bisa jejer dengan sepeda tersebut. Setelah ngobrol sini situ, ternyata....eh ternyata.... Om Adi ini satu arah sama saya. Beliau tinggal di Cibinong. He..he..he... bisa bareng nih kalo B2W lagi. Huebatnya lagi, Om Adi ini ber-B2W tiap hari dari Cibinong ke kantornya di Duren Tiga. Wah semua jempol saya angkat tinggi-tinggi deh. SALUT!
Tak lama setelah itu di depan terlihat lagi satu penggoes. Setelah bermanuver kiri kanan dikit akhirnya bisa dikejar juga. Seorang cewek berjilbab. “Pagi Mbak....” Sapaku. Setelah ngobrol sini situ lagi, ternyata Mbak Linggar ini tinggal di Cibubur. Wah, hebat juga ya. Setelah melahap rute Kramat Jadi PGC dan Mal Kalibata, kami pun berpisah. Om Adi bablas arah Duren Tiga, saya dan Linggar belok kanan lewat STEKPI. Kami pun melanjutkan perjalan melalui jalan dalam wilayah Pancoran dan tembus di Siemens. Ah, Kuningan tak lama lagi...
Sampai di perempetan Pancoran, bunyi bel berdering dari belakang. Saya kira Linggar, eh, setelah menengok, ternyata cowok dengan sepeda ontel plus caping yang tertempel di boncengan belakang. “Wah, keren juga sepedanya Om,” kataku. Dia pun membuka maskernya dan tersenyum. “Dari mana mau ke mana?” lanjutku. Ternyata si Om yang bernama Ismail ini bersepeda dari Klender ke Kebayoran. Wah, aksi juga dengan sepeda ontel plus caping bersepeda membelah Jakarta. Keren! Setelah pancoran iring-iringan jadi 3 orang lagi. Sampai di depan Paramadina, Om Ismail ngebel sambil bilang, “Saya belok kiri ya Om,” Saya pun membunyikan bel sambil berkata, “Oke om sampai ketemu lagi.”
Mendekati perempatan Kuningan semangat semakin menggebu, maklum kantor dah dekat. Sampai di jembatan penyebrangan Depnaker, saya tengok ke belakang kok Linggar gak kelihatan. Akhirnya saya gowes sepeda pelan-pelan. Tak lama kemudian, di depan kantor polisi, Linggar sudah di belakang saya. Lampu merah perempatan berganti dari hijau, kuning ke merah. Saya dan Linggar pun berpisah. Dia lurus ke Telkom Gatsu, saya belok kanan masuk HR Rasuna Said. Sepeda saya gowes dengan gir high speed. Sekitar 10 menitan saya akhirnya sampai di depan kantor.
Jam menunjukkan pukul 07.40. Tepat 2 Jam Citeureup-Jakarta. Inilah rekor saya datang ke kantor paling pagi. Dan semua berkat si merah-hitam Xtrada. Tapi ada insiden kecil ketika menuju parkiran sepeda. Maksud hati ingin mengerem depan belakang. Tapi handle rem belakang terlepas. Jadilah ban sepeda belakang terjungkit ke depan dan saya terjatuh. Untung bisa jatuh dengan posisi baik dan tidak cedera. Setelah meneguk bekal air putih, saya langsung telepon nyonya besar dan lapor kalo sudah sampai kantor. Si kecil Rafa rupanya sudah bangun dan ingin ngobrol.... ”ayah di mana?” tanyanya. ”Ayah kring...kring... gowe...gowes.... nak....
Setelah telepon si kecil saya pun mandi dan naik ke lantai 3. Di Lobi ketemu bu bos, "Kamu naek sepeda Gung?" tanyanya.
"Iya Bu."
"Bagus lah, daripada naik bis muter-muter...." Tul. Siap komandan, eh bu... ^_^